INFOTREN.ID - PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan bahwa pasokan bahan baku untuk produksi pupuk nasional tetap terjamin aman, meskipun terjadi eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat (AS).
Menanggapi situasi global yang tidak menentu, perusahaan mengambil langkah proaktif dengan melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku utama yang digunakan dalam produksi pupuk NPK (nitrogen, fosfor, dan kalium).
Langkah diversifikasi ini bertujuan untuk memitigasi potensi risiko gangguan rantai pasok yang mungkin timbul akibat ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, memberikan jaminan penuh mengenai ketersediaan pupuk bagi sektor pertanian di dalam negeri.
"Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” kata Yehezkiel, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).
Saat ini, kebutuhan fosfat (P) untuk pupuk NPK dipenuhi dari negara-negara di Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair, yang berada di luar pusat konflik utama.
Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos, lokasi yang dipastikan berada di luar zona konflik Timur Tengah, sehingga meminimalkan kerentanan pasokan.
Namun, terdapat satu komponen kritis yang berpotensi terdampak langsung yakni sulfur (S), yang esensial untuk memproduksi asam sulfat sebagai komponen pendukung utama pupuk NPK.
Sebagian pasokan sulfur memang masih bergantung pada negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, dan Kuwait, yang menjadi sorotan dalam konflik terkini.