INFOTREN.ID - Kegaduhan publik kini menyelimuti Ketua Umum Pemuda Pancasila, Japto Soerjosoemarno, menyusul terungkapnya koleksi besar hewan buruan yang telah diawetkan di kediamannya. Fenomena ini memicu perdebatan luas mengenai aspek hukum kepemilikan satwa liar yang dilindungi maupun yang bukan.
Sorotan tajam ini mulai mencuat setelah sebuah unggahan di media sosial menarik perhatian publik luas beberapa waktu lalu. Informasi tersebut berasal dari akun Instagram dengan nama pengguna @btgf yang mempublikasikannya pada hari Kamis, 12 Maret 2026.
Unggahan tersebut menyoroti keberadaan spesimen satwa liar yang dipajang secara masif di dalam hunian pribadi milik orang nomor satu di ormas tersebut. Jumlah koleksi tersebut dikabarkan sangat signifikan dan beragam jenisnya.
Diketahui bahwa koleksi taksidermi tersebut menampilkan berbagai jenis hewan besar dari berbagai belahan dunia. Pajangan ini disusun sedemikian rupa, menyerupai galeri satwa eksotis yang berhasil diburu.
Di antara deretan koleksi yang dipamerkan, terdapat nama-nama satwa ikonik dan berstatus dilindungi di beberapa negara. Hewan-hewan yang disebutkan termasuk singa, gajah, badak, banteng, rusa, macan, zebra, hingga kuda nil.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa mayoritas spesimen hewan awetan ini merupakan hasil dari kegiatan perburuan yang dilakukan di luar wilayah Indonesia. Hal ini meningkatkan kompleksitas isu terkait perizinan internasional.
Disebutkan lebih lanjut bahwa lokasi perburuan satwa-satwa tersebut mencakup wilayah geografis yang sangat luas dan beragam. Area perburuan tersebut dilaporkan meliputi beberapa benua, seperti Afrika, Amerika, Selandia Baru, dan Australia.
Dilansir dari KOMPAS.com, warganet tengah ramai membicarakan temuan koleksi hewan buruan yang diawetkan (taksidermi) di rumah Ketua Umum Pemuda Pancasila, Japto Soerjosoemarno.
"Sorotan muncul setelah beredar informasi yang diunggah oleh pengguna akun Instagram @btgf pada Kamis (12/3/2026) mengenai banyaknya spesimen satwa liar yang dipajang di dalam rumah tersebut," sebut KOMPAS.com mengenai awal mula mencuatnya isu ini.