INFOTREN.ID - Sebuah insiden menarik perhatian publik terjadi saat gelaran demonstrasi mahasiswa beberapa waktu lalu di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri). Momen ini menjadi sorotan karena adanya tindakan yang dilakukan oleh seorang mahasiswi terhadap atribut kepolisian.
Aksi unjuk rasa tersebut melibatkan sejumlah massa dari berbagai institusi pendidikan tinggi di Ibu Kota. Tercatat, mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) menjadi salah satu penggerak utama dalam demonstrasi tersebut.
Selain mahasiswa UI, tercatat pula partisipasi dari UPN 'Veteran' Jakarta dan Politeknik Negeri Jakarta (PMJ) yang turut menyuarakan aspirasi mereka. Kehadiran mereka menunjukkan adanya konsolidasi dukungan atas tuntutan yang disuarakan.
Konteks utama dari aksi demonstrasi ini adalah respons kolektif atas kasus serius yang menimpa seorang siswa bernama AT di Tual, Maluku. Kasus ini mencuat setelah siswa tersebut meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan.
Penyebab utama kemarahan mahasiswa adalah dugaan keterlibatan oknum anggota Brimob dengan inisial Bripda MS dalam kasus penganiayaan fatal tersebut. Tuntutan keadilan menjadi inti dari orasi yang disampaikan di depan Mabes Polri.
Ironisnya, demonstrasi yang terjadi pada periode bulan Ramadan tersebut menampilkan pemandangan unik pada aparat keamanan. Polisi yang bertugas tampak mengenakan atribut keagamaan, termasuk peci dan serban putih, saat mengamankan jalannya unjuk rasa.
Sinyal Bahaya dari Yaman: Kelompok Houthi Siap Terjun Langsung Bela Iran dalam Konflik Regional
Tindakan mahasiswi UI yang kemudian melakukan aksi kontroversial dengan mencoret-coret serban Polwan adalah bagian dari ekspresi protes atas situasi yang mereka anggap tidak adil. Aksi ini kemudian berujung pada permintaan maaf dari pihak mahasiswi tersebut.
Permintaan maaf ini dikeluarkan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukan selama berlangsungnya demonstrasi di depan Mabes Polri, dilansir dari berbagai liputan media saat itu.