INFOTREN.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas seiring dengan pernyataan tegas dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai salah satu jalur pelayaran vital dunia. Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington telah mengaktifkan rencana untuk mengamankan dan mengendalikan Selat Hormuz.

Langkah ini diambil dalam konteks dinamika hubungan yang semakin rumit dan penuh friksi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran. Pengumuman ini mengisyaratkan potensi perubahan signifikan dalam strategi militer AS di perairan strategis tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, Trump juga melontarkan pandangan mengenai keinginan pihak lawan dalam konflik tersebut. Ia mengklaim bahwa Teheran saat ini memiliki hasrat yang "sangat" besar untuk mencapai kesepakatan diplomatik dengan pemerintahan AS.

Pernyataan mengejutkan ini disampaikan oleh orang nomor satu Gedung Putih tersebut dalam sebuah sesi wawancara eksklusif. Wawancara tersebut disiarkan oleh media Israel, Channel 14, pada hari Minggu (29/3) waktu setempat.

Informasi mengenai klaim pengendalian Selat Hormuz ini pertama kali diangkat oleh Anadolu Agency pada hari Senin, (30/3/2026). Ini menandai eskalasi retorika serius mengenai kedaulatan maritim di jalur suplai energi global tersebut.

Ketika pewawancara menanyakan secara spesifik mengenai kapabilitas Amerika Serikat untuk benar-benar menguasai jalur perairan yang sangat strategis itu, respons Trump terdengar sangat meyakinkan.

"Iya, tentu saja, itu sudah terjadi," adalah jawaban singkat dan tegas yang diberikan oleh Donald Trump kepada media tersebut.

Klaim ini memperkuat narasi bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan nyata, bukan hanya retorika, untuk memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka di bawah pengawasan AS. Ini adalah perkembangan yang patut dicermati oleh komunitas internasional.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: News.detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.