INFOTREN.ID - Pemerintah Republik Islam Iran telah mengambil langkah diplomatik serius dengan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini diambil menyusul adanya laporan media mengenai plot yang diduga melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Rencana yang diungkap media tersebut secara spesifik menargetkan pembunuhan terhadap beberapa pejabat tinggi Iran. Di antara nama yang disebut dalam ancaman tersebut adalah Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Teheran menganggap ancaman pembunuhan yang terungkap ini sebagai bentuk nyata dari terorisme negara yang dilakukan oleh pihak luar. Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap norma dan hukum internasional yang berlaku.
Surat resmi tersebut telah dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, serta Presiden Dewan Keamanan PBB. Langkah ini merupakan respons formal atas informasi yang beredar luas di ranah media massa.
Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, adalah pihak yang secara resmi menyampaikan keprihatinan mendalam ini. Penyampaian ini dilakukan berdasarkan informasi yang didapat dari berbagai sumber media.
"Pemerintah Iran menyatakan keprihatinan mendalam atas rencana pembunuhan yang dilaporkan media tersebut," ujar Amir Saeed Iravani.
Informasi mengenai penyampaian surat resmi ini dipublikasikan pada hari Jumat, 27 Maret 2026, dilansir dari Press TV. Tanggal ini menandai titik waktu formalisasi protes Iran di forum internasional.
Iran menuntut adanya perhatian serius dari institusi global terhadap apa yang mereka anggap sebagai ancaman keamanan nasional yang serius dan terencana. Mereka berharap PBB segera mengambil sikap atas dugaan konspirasi ini.
Pernyataan Iran ini mempertegas ketegangan diplomatik yang sedang berlangsung, menyoroti bagaimana isu keamanan internal kini dibawa ke ranah Dewan Keamanan PBB melalui jalur resmi.