INFOTREN.ID - Seorang khatib yang memimpin jalannya salat Id di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, baru-baru ini menjadi sorotan utama warganet hingga mendadak viral. Nama khatib tersebut, yakni Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah, memicu rasa penasaran publik.
Fenomena ini mendorong awak media untuk menggali lebih dalam mengenai latar belakang penamaan yang tidak lazim tersebut. Sumber informasi utama berasal dari ayah kandung sang khatib yang bersedia membeberkan alasan di balik pilihan nama tersebut.
Fatah Al Basid, sang ayah, mengungkapkan bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab memberikan nama yang cukup unik tersebut kepada putranya. Pemilihan nama ini didasari oleh pertimbangan teologis dan identitas keagamaan yang kuat.
"Saya yang memberi nama Isa Al Masih. Nama nabi yang sebenarnya jarang atau tidak pernah dijadikan nama anak oleh umat Muslim," kata Basid, dilansir dari detikJatim pada hari Jumat, 20 Maret 2026.
Ia menekankan bahwa nama 'Isa Al-Masih' dipilih meskipun merupakan nama seorang nabi yang jarang diadopsi sebagai nama depan oleh Muslim di Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya intensi khusus dari pihak keluarga.
Selain nama depan yang menarik perhatian, penambahan 'Putra Muhammadiyah' di belakang nama juga memiliki fungsi penting. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman publik mengenai keyakinan sang anak.
Basid kemudian menjelaskan implikasi penambahan identitas tersebut. "Basid menjelaskan ada alasan khusus menyertakan Putra Muhammadiyah di belakang nama anaknya. Hal itu agar tidak ada yang salah mengira bahwa anaknya seorang nonmuslim," ujar Basid.
Dengan demikian, penamaan ini berfungsi ganda: menghormati tokoh agama tertentu sekaligus menegaskan identitas keislaman sang anak di tengah masyarakat. Peristiwa ini menjadi menarik karena menggabungkan nama yang ambigu dengan penanda afiliasi keagamaan yang tegas.