INFOTREN.ID - Iran dan Oman kini tengah menyiapkan skema baru untuk memungut biaya transit bagi seluruh kapal yang melintasi perairan strategis Selat Hormuz. Kebijakan ini akan berlaku selama periode gencatan senjata yang telah disepakati dengan Amerika Serikat.

Masa genting ini berlangsung selama dua minggu penuh, sebuah jeda penting dalam ketegangan yang telah berlangsung lama antara Teheran dan Washington. Kesepakatan bersejarah ini diketahui berhasil dimediasi oleh pihak Pakistan.

Keputusan untuk memberlakukan biaya transit ini merupakan salah satu poin penting dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Hal ini menggarisbawahi bagaimana isu ekonomi dan navigasi diintegrasikan dalam upaya diplomatik.

Informasi mengenai pungutan biaya ini mulai terungkap ke publik melalui beberapa kantor berita internasional terkemuka. Publikasi tersebut terjadi pada hari Rabu, tanggal 8 April 2026.

"Biaya transit di Selat Hormuz diperbolehkan untuk dipungut oleh Iran dan Oman sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan," demikian informasi yang disampaikan dilansir dari CNN dan Associated Press.

Kantor berita resmi Iran, Tasnim, turut mengonfirmasi rencana pemungutan tarif tersebut. Mereka memberikan rincian lebih lanjut mengenai alokasi dana yang akan terkumpul dari kebijakan ini.

Menurut Tasnim, seluruh dana yang berhasil dihimpun dari pungutan biaya transit di Selat Hormuz akan dialokasikan secara spesifik. Dana tersebut bertujuan untuk mendukung upaya rekonstruksi di wilayah Iran.

Alokasi dana ini sangat krusial mengingat Iran telah mengalami gempuran signifikan. Serangan tersebut diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak tanggal 28 Februari sebelumnya.

"Dana dari pungutan itu akan dialokasikan untuk rekonstruksi Iran yang digempur AS dan Israel sejak 28 Februari lalu," kutipan tersebut disampaikan oleh kantor berita Iran, Tasnim.